Diberdayakan oleh Blogger.

Labels

Islam dan Kimia

Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah). Al-Baqarah (2) : 269

Nyamuk dan Ibu

Nyamuk dan Ibu Kalau melihat nyamuk yang berterbangan dan hinggap di kulit, jadi ingat Mama di rumah.. (Loh kok? apa hubungannya?) :)

Doa Sahabat

Sesungguhnya do’a seseorang kepada saudaranya karena Allah adalah do’a yang mustajab" (H.R. Bukhari)

Kamis, 04 Oktober 2012

Katakanlah kebenaran walau itu pahit



"قل الحق ولو كان مرا"
"Qullil haqqa walau kaana murran"
"Katakanlah kebenaran walau itu pahit"

Kalimat itu cukup jarang saya dengar, dan saya menemukannya dalam suatu novel islami. Kenapa saya bilang jarang mendengar, karena saya lebih sering mendengar orang berbicara, "kami berbohong untuk kebaikan", atau "Allah juga tahu kami berbohong karena alasan yang baik".

Begitu juga dengan kejadian-kejadian di sekitar kita, yang secara tidak langsung melegalkan kebohongan karena alasan yang dianggap baik. Kebohongan yang dilakukan dalam hal-hal kecil ini akan membiasakan kita untuk hidup acuh tak acuh terhadap lingkungan kita. Misalnya, ada seorang mahasiswa merusak suatu alat di laboratorium, kita yang melihatnya justru tidak melaporkannya pada laboran, karena alasan "nanti kalau dilaporkan, kasian, dia akan kena hukuman, atau harus membayar uang untuk menggantinya". Sekilas mungkin kita terlihat membantu teman kita itu, tetapi konsekuensi dari kebohongan kita yaitu saat alat itu akan dipakai oleh orang lain, tentu alat tersebut tidak dapat digunakan. Mulai muncul fitnah dan pergunjingan yang berlarut-larut. Hal ini justru menambah masalah baru.

Contoh lain, misalnya, kita melihat Ibu kita keluar dari rumah tidak menutup auratnya dengan jilbab. Maka seharusnya kita mengingatkan pada beliau dengan pelan-pelan dan sopan, bahwa hal tersebut dilarang Allah. Bukannya malah membiarkannya karena alasan "khawatir Ibu tersinggung saat diingatkan".

Marilah kita membiasakan berkata jujur akan suatu kebenaran, walaupun kebenaran yang kita sampaikan itu bernilai pahit bagi kita atau orang lain.

Gambar diambil dari sini

Rabu, 03 Oktober 2012

Kuyakini Nabi Muhammad



Jika seorang tukang bangunan dapat menyusun dan membangun suatu rumah dengan fondasi dan struktur yang baik, hal itu sangatlah wajar. Karena sang tukang bangunan sudah paham bagaimana prosedur pembuatan konstuksi suatu rumah, dan hal-hal apa saja yang perlu ia siapkan untuk membuatnya.

Jika seorang ahli kimia dapat mensintesis suatu senyawa kimia, yang memiliki struktur kompleks dengan sifat kimia tertentu yang bermanfaat bagi orang banyak, hal itu wajar, Karena sang ahli kimia telah mempelajari dan mengulang-ulang percobaannya, sehingga ia dapat merumuskan dengan tepat prosedur dan bahan kimia yang ia perlukan dalam mensintesis senyawa tersebut.

Lalu bagaimana dengan seseorang yang belum pernah memegang sekop dan semen untuk membangun suatu rumah. Apakah ia dapat mengkomposisikan semen, air dan pasir sehingga dapat menjadi campuran yang baik untuk bangunan? Apakah ia dapat menyusun konstruksi dari bangunan yang kokoh dan indah? Tentu tidak, jika tidak didukung dengan pengalaman dan ilmu.

Dan bagaimana pula jika seseorang yang tidak pernah mempajari struktur kimia, ikatan kimia dan gaya yang terjadi di dalam struktur kimia itu. Apakah ia dapat mengetahui bahan kimia apa saja yang dibutuhkan untuk mensintesis suatu senyawa kimia? Apakah ia tahu prosedur yang terurut untuk mensintesisnya? Tentu jawabannya pun tidak.

Maka, bagaimana seorang Nabi Muhammad saw yang tidak dapat membaca dan tidak dapat menulis. Apakah ia dapat membuat suatu kitab yang baik dan dapat memiliki makna yang bahkan ahli syair pun tidak dapat menandinginya? Pikiran kita pasti menjawab tidak mungkin. Hal ini dikarenakan seperti yang dituliskan di awal, seseorang yang dapat membuat sesuatu dengan baik, tentunya memiliki ilmu, pengalaman dan kemampuan tertentu yang mendukungnya. Sehingga dengan kenyataan seperti ini, seharusnya para ahli kitab meyakini bahwa Muhammad saw adalah Rasul yang diutus oleh Allah Swt untuk memberikan menuntun umatnya dan memberi kabar baik melalui Al Qur'an. Hal ini seperti yang tertulis dalam Al Qur'an surat Al Ankabut ayat 48.

"Dan engkau (Muhammad) tidak pernah membaca sesuatu kitab sebelum (Al-Qur'an) dan engkau tidak pernah (menulis) suatu kitab dengan tangan kananmu; sekiranya (engkau pernah membaca dan menulis), niscaya ragu orang-orang yang mengingkarinya. (QS Al-Ankabut 29 : 48)"

Wallahu a'lam bi shawab.

Gambar diambil dari sini

Selasa, 02 Oktober 2012

Emakku pahlawanku...



Sebagian besar orang mengetahui bahwa emak itu panggilan untuk seorang ibu di beberapa bahasa daerah, termasuk daerahku, sunda. Tapi emak yang saya sedang tulis sekarang ini bukan untuk membahas tentang ibu saya, melainkan nenek saya. 

Beliau sosok yang sangat berarti bagi saya dan seluruh keluarga besar saya. Beliau sangat dekat dengan cucu-cucunya, mungkin itu juga yang menyebabkan kami para cucunya juga memanggilnya dengan sebutan emak, bukan nenek atau "nini" dalam bahasa sunda.

Banyak sekali yang emak ajarkan pada kami saat belau hidup. Salah satunya yaitu nilai 'berbagi". Emak mengajarkan pada kami sedari kecil tentang pentingnya berbagi pada saudara. Jika salah seorang dari kami mempunyai makanan, kami membaginya agar sepupu-sepupu kami juga ikut merasakan makanan itu. Hal ini benar-benar tertanam di dalam benak kami, hingga sekarang kami telah dewasa.

Orang lain yang baru tahu keluarga besar kami mungkin akan agak terheran-heran, bagaimana dekatnya kami. Bahkan ada yang mengira kami ini bukan saudara sepupu, tetapi saudara kandung. Jika ada salah satu dari kami memiliki masalah, kami berembug untuk mendapatkan solusinya.

Alhamdulillah kami sangat bersyukur Allah menitipkan kami pada satu keluarga besar yang memiliki sosok emak yang sangat menginspirasi, mengajarkan nilai-nilai kehidupan, yang manfaatnya sangat kami rasakan walaupun beliau sudah tiada. Kami hanya bisa berdoa semoga nilai-nilai yang emak ajarkan pada kami, menjadi amal jariyah yang tidak pernah putus. Aamiin.

Gambar diambil dari sini

Jumat, 20 Juli 2012

Ber-Socmed Menuai Pahala





Media sosial atau yang terkenal dengan sebutan Socmed, sangat digandrungi oleh masyarakat sekarang ini. Usia penggunanya sangat beragam, ada yang dari anak kecil, remaja, hingga orang tua pun keranjingan dibuatnya.

Adakah yang salah?
Tentu tidak, jika kita menggunakannya tidak berlebihan dan untuk kebaikan justru dapat menuai pahala. Karena kalimat yang kita publish di Socmed itu seperti ucapan yang hadirnya dari lisan kita, sehingga harus dijaga dan tentunya akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.

Dari Abu Hurairoh rodhiallohu ‘anhu, sesungguhnya Rosulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia berkata baik atau diam. Dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia memuliakan tetangganya. Dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat hendaklah ia memuliakan tamunya.” (HR. Bukhori dan Muslim)

Jauhkanlah ghibah, umpatan, prasangka buruk, dan hal negatif lainnya dalam beraktivitas di Socmed. Karena tanpa sadar hal itu akan memberatkan timbangan sebelah kiri kita di hari penghisaban nanti.



"Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang." QS. Al-Hujuraat (49): 12

Jadikanlah teknologi sebagai media yang dapat mengantarkan kita menuju ridha-Nya. Apalagi di bulan yang penuh berkah ini, tentu hal positif apa pun yang diniatkan karena Allah, akan berlipat ganda pahalanya.

*Gambar diambil dari sini

Kamis, 19 Juli 2012

Aturan Kehidupan







Kata...siapa yang tidak mengenal kata? Susunan huruf yang dapat membentuk kalimat. Begitu indahnya kalimat, karena ada kata-kata yang tersusun dengan baik dan bermakna di dalamnya...

Jika dalam suatu kata hanya ada huruf vokal saja, apa yang terjadi?
"aaeiueoaiuaaaaiueeoiu"

Jika dalam suatu kata hanya ada huruf konsonan saja, apa yang terjadi?
"kkjjlhgmmnbvtrwllpppwq"

Apakah terdapat makna yang indah di dalamnya?
Tentu tidak...

Begitu pun yang terjadi pada kita manusia. Kita berbeda dan memiliki karakter yang unik. Karena saling mengisi untuk menghasilkan kehidupan yang dinamis dan indah.

Maka hargailah perbedaan, tetapi jangan lupa, bahwa kata tersusun atas huruf dengan aturan tertentu. Manusia pun memerlukan aturan yang dapat menyusun kehidupan ini agar selaras. Tentu aturan itu datangnya dari yang menciptakan, yang mendesain, dan memberikan nafas kehidupan, yaitu Allah swt.


*Gambar diambil dari sini

Masa Depan





Andai seorang pemain bola tahu bagaimana kedudukan akhir suatu pertandingan, mungkin tidak akan terjadi gol-gol indah yang diperagakannya...

Andai seorang pemain catur tahu bagaimana hasil akhir dari permainannya, mungkin tidak akan ada strategi-strategi menarik untuk mengalahkan lawannya...

Andai pembuat lagu tahu bagaimana musik yang akan dia buat, mungkin tidak akan ada penyendirian, perenungan dan pencarian inspirasi yang dilakukannya untuk membuat lagu...

Andai seorang pelari tahu siapa yang akan sampai pertama di garis finish, mungkin dia tidak akan mengerahkan sekuat tenaganya untuk berusaha menjadi yang terdepan...

Maka, seandainya manusia tahu bagaimana masa depannya, mungkin dia tidak akan berusaha, berdoa, dan berpasrah diri kepada Allah agar mendapatkan hasil yang terbaik...

Para pemain bola, pemain catur, pembuat lagu, pelari, memiliki panduan khusus yang menuntun mereka pada tujuan yang ingin dicapai. Maka Allah pun telah memberikan panduan-Nya kepada manusia, agar memiliki "hasil baik" di akhir nanti, yaitu Al Quran dan Al Hadits..

"Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal."  [Surat Luqman (31) : 34]


*Gambar diambil dari sini

Selasa, 17 Juli 2012

Seminar & Launching Buku Pola Berpikir Sains





Pagi ini di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, tepatnya di Fakulttas Sains dan Teknologi diadakan Seminar & Launching Buku Pola Berpikir Sains : Membangkitkan Kembali Tradisi Keilmuan Islam. Buku ini ditulis oleh Dr. U. Maman, Kh, M.Si, yang juga merupakan dosen di fakultas ini dan direktur Pusbangsitek UIN Jakarta.

Animo peserta cukup besar. Hal ini terlihat dari jumlah peserta yang terdaftar mencapai 183 orang, sedangkan kapasitas ruangan hanya mampu menampung 150 orang. Latar belakang peserta pun beragam, ada mahasiswa, akademisi, praktisi, penulis, hingga guru. Subhanallah...ini merupakan bukti bahwa begitu ingin tahunya peserta mengenai bagaimana pola berpikir sains dalam pandangan Islam.

Saat ini anggapan kebanyak orang jika mendengar kata Sains dan Agama, seperti dua hal yang bersebrangan, bahkan tidak memiliki hubungan sama sekali. Padahal di masa keemasan Islam, justru sains sangat menyokong peradaban Islam pada masa itu.

Acara ini dimulai dengan pembacaan ayat Al Quran dan dilanjut dengan sambutan oleh Dr. U. Maman, Kh, M.Si sebagai penulis. Beliau menyebutkan bahwa buku ini merupakan hasil diskusi panjang dengan rekan-rekannya, dan tujuan penulisannya yaitu sebagai desain pendidikan di dalam Islam mengenai Sains. Beliau berharap, desain ini akan diteruskan oleh penulis lainnya seperti 'gayung bersambut'.

Acara dilanjutkan dengan pemutaran video yang menggambarkan bagaimana pemikiran umum kita tentang abad pertengahan yang terkenal dengan sebutan Abad Kegelapan (Dark Ages). Padahal justru pada masa itu merupakan abad keemasan, yaitu zaman keemasan Islam. Banyak penemuan pada masa itu yang menjadi dasar ilmu pengetahuan dan teknologi pada zaman modern. Tetapi zaman ini tereliminasi, dan tergambarkan saat ini sebagai Abad Kegelapan.



Seminar ini dimoderatori oleh Bapak Ahmad Jaelani. Beliau menjelaskan bahwa Islam dan Sains memerlukan penghubung, agar keduanya dapat berjalan bersamaan. 

Berikut merupakan sedikit kutipan dari penjelasan Dr. U. Maman, Kh, M.Si:

"Sains dan agama harus saling menyatu, bukan hanya saling mendekati atau mendekati pada batas tertentu"
"Berdasarkan filsafat barat, agama hanya berada di bidang etika"
"Kita diwarisi oleh filsafat barat bahwa kebenaran hanya berdasarkan fakta empiris"
"Ilmuan muslim justru menganggap fakta empiris yang dapat terindra merupakan kebenaran terendah. Fakta empiris ini digunakan sebagai bagian dari proses untuk memahami fakta-fakta ghaib"

Hubungan antara Sains dan Islam menurut Prof. Dr. Fahmi Amhar (peneliti Bakosurtanal LIPI Bogor dan dosen pascasarjana Universitas Paramadina) berdasarkan buku Dr. U. Maman, Kh, M.Si ada 5, antara lain:
1. Sains Ta'wili
Dalam hubungan ini, dalam keilmuannya, Islam sama sekali tidak menggunakan fakta empiris.

2. Islamisasi Sains
Dalam hubungan ini, dari ilmu sains yang sudah ada, kemudian dicari sisi ke-Islamannya. Contohnya yaitu seperti yang dilakukan oleh Harun Yahya. Terdapat kritik pada hubungan ini yaitu Islam tidak memiliki karya sains yang baru, hanya menulusuri berdasarkan sains yang sudah ada.

3. Saintifikasi Islam
Pada hubungan ini, nilai-nilai Islam yang sudah ada, dicari sisi sains-nya. Hal ini seperti yang dilakukan oleh Prof. Dadang Hawari yang merupakan psikolog. Misalnya beliau menguji apakah salat tahajud memiliki pengaruh terhadap kesehatan tubuh dan jiwa manusia.

4. Sains Islam
Pada hubungan ini, sains yang dilakukan oleh ilmuan Islam, berdasarkan pada kebutuhan atau permasalahan secara syar'i. Misalnya untuk menjawab, air dengan karakteristik apa yang dapat digunakan wudhu. Kemudian adanya perintah di dalam Al Quran untuk meneliti. Misalnya meneliti tentang obat habattussauda atau madu. Dan kesemuanya harus sesuai dengan syar'i, sehingga memiliki batasan tertentu yang ditentukan Allah.

5. Sains Ijtihadi
Sains berdasarkan pemikiran yang didasarkan pada Islam.


*Gambar diambil dari sini
**Video diambil dari sini